LEARNING DISABLED vs TEACHING DISABLED

Diposting oleh Nanang Suryana | Senin, Januari 28, 2013 | , | 2 komentar »

Berikut share artikel "LEARNING DISABLED vs TEACHING DISABLED" dari: Dr. Adi W.Gunawan, CCH.
Beliau adalah seorang intelektual, akademisi, Doktor Pendidikan, Clinical Hypnotherapist, Trainer, researcher, pakar Mind Technology, penulis 22 buku, dan dikenal sebagai Indonesia Leading Expert in Mind Technology.

 LEARNING DISABLED vs TEACHING DISABLED
Tidak ada satupun anak yang bodoh. Yang ada adalah anak yang ”dipaksa” menjadi bodoh.
~Adi W. Gunawan

Pernahkah anda, orangtua atau pendidik, bertemu dengan seorang anak yang hampir semua nilai ujiannya ”jeblok” namun dapat menghapal semua nama dan nomor punggung pemain sepak bola dan nama klub sepakbola yang ia kagumi? Saya yakin pasti pernah. Lalu apa hubungan antara pelajaran sekolah dan kemampuan menghapal nama pemain sepak bola Oh, hubungannya sangat erat. Jika anda cukup jeli, anda pasti heran karena anak yang bodoh, menurut versi sekolah karena nilainya jelek, ternyata mempunyai daya ingat yang sangat tinggi untuk urusan sepakbola. Otak yang digunakan anak untuk mengingat pelajaran sekolah dan nama pemain sepak bola sudah tentu otak yang sama.


Orangtua dan guru biasanya tidak pernah mau repot-repot memikirkan keanehan ini. Biasanya guru selalu ”menyalahkan” murid karena prestasi murid yang tidak maksimal. Orangtua sebaliknya akan kalang kabut mencarikan guru les bagi anaknya, agar nilai anak bisa naik. Jika anak sudah diberi les ini, les itu, nilainya masih tetap jelek, maka biasanya akan langsung diberi label sebagai anak bodoh, anak yang lamban, anak blo’on, atau, kalau pakai istilah teknis, learning disabled. Benarkah demikian?

Coba anda simak cerita berikut ini.

Ada dua orang murid kelas 8 (SMP kelas 2), Jane dan Joe, yang sangat lemah di Matematika., khususnya mengenai pelajaran pecahan. Ke dua anak ini, oleh psikolog, telah mendapat label ”learning disabled” alias mengalami kesulitan belajar. Selain itu ke dua anak ini juga ada masalah dengan spelling atau mengeja.

Orangtua mereka tetap berkeyakinan bahwa anak-anak mereka mampu. Hanya saja kemampuannya belum digunakan secara optimal. Mereka lalu meminta bantuan pakar pembelajaran mutakhir S.A.L.T (Suggestive Accelerated Learning and Teaching). Pakar ini setuju untuk membantu anak-anak ini.

Saat pertama kali mendapat terapi, mereka diminta mengerjakan pre-test yang berhubungan dengan kemampuan spelling. Untuk yang ini, tidak ada masalah. Mereka dengan senang hati mengerjakan tes yang diberikan. Sedangkan untuk pre-test matematika mereka sama sekali tidak mau. Meskipun sudah dibujuk dengan berbagai cara mereka tetap menolak. Saat ini anda tentu tahu apa yang terjadi. Ada mental block.

Tahukah anda berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat anak-anak ini meningkat kemampuannya ? Hanya 4 hari. Benar, anda tidak salah baca. Hanya 4 (empat) hari. Berikut ringkasan test yang diberikan dari hari pertama hingga ke empat.

Mengeja / Spelling Matematika (Pecahan)
Hari 1 2 3 4 1 2 3 4
Jane 30 90 100 100 0 90 100 80
Joe 20 90 60 60 0 90 90 90

Hasil yang dicapai oleh Joe pada ujian mengeja, di hari ke 3 dan ke 4, seharusnya masing-masing 100. Namun Joe sengaja mengubah jawabannya yang benar menjadi jawaban yang salah karena dia tetap tidak percaya kalau ternyata dia mampu mengerjakan test ini dengan sempurna. Kembali, di sini kita melihat suatu mental block yang sangat merugikan.

Apa yang terjadi. Bagaimana anak yang tadinya dicap sebagai learning disabled tiba-tiba berhasil mencapai nilai yang begitu tinggi? Ke dua anak ini selanjutnya dapat menyelesaikan studi dengan baik dan bahkan masuk ke universitas.

Dari apa yang diceritakan di atas jelas terlihat bahwa anak tidak berprestasi karena adanya mental block, yang muncul sebagai akibat dari proses mengajar yang salah. Proses mengajar yang salah ini disebut dengan teaching disabled. Biasanya guru tidak pernah mau mengakui kalau ternyata mereka tidak mengerti cara mengajar yang baik, benar, efektif, dan efisien. Yang selalu disalahkan adalah murid.

Dari pengalaman saya bergaul dengan banyak pendidik, jarang ada yang benar-benar mengerti dan mampu menerapkan proses pembelajaran yang menarik, efektif, dan yang paling penting, menyenangkan. Banyak yang berasumsi bahwa bila guru mengajar maka murid pasti belajar. Mengajar dan belajar adalah dua proses yang berbeda.

Banyak hal yang perlu diketahui orangtua dan pendidik agar dapat membantu anak belajar, antara lain konsep diri, cara kerja pikiran, cara kerja otak, cara kerja memori, motivasi, rentang fokus optimal, gaya belajar, gaya asimilasi, penguasaan materi, manajemen kelas, kepribadian, musik, teknik memori, teknik mencatat, teknik berhitung, dan masih banyak lagi. Kalau sudah begini maka terlihat bahwa proses mengajar dan belajar bukanlah hal yang sederhana.

Saya juga selalu mengatakan bahwa setiap anak mempunyai kemampuan belajar yang sangat luar biasa. Bila berbicara mengenai kemampuan belajar maka orang selalu menghubungkannya dengan IQ. Di setiap seminar saya selalu mengatakan bahwa kita dapat belajar dengan sangat cepat. Dan selalu ada peserta seminar yang mengatakan, ”Itu kan bergantung pada IQ. Kalau IQ-nya tinggi bisa, kalau IQ-nya biasa-biasa ya jangan harap bisa belajar dengan cepat dan dengan hasil yang baik”. Cukup sulit bagi saya untuk meyakinkan tipe orang seperti ini. Orang ini hanya bicara IQ. Padahal yang saya tekankan adalah PQ atau Potential Quotient. PQ berbanding lurus dengan Konsep Diri. Semakin baik Konsep Diri seseorang maka semakin besar potensi diri yang dapat ia kembangkan.

Sumber: Facebook Adi W.Gunawan

Semoga bermanfaat.

Artikel Terkait:

2 komentar

  1. agen sbobet // 14 Februari 2013 13.54  

    setuju banget sama asrtikelnya gan, kebanyakan anak diajarkan untuk menghafal bukan memahami materi. coba deh nonton film 3 Idiots.

  2. sticker mobil // 23 Mei 2013 14.15  

    yepp.setuju bro....Tidak ada satupun anak yang bodoh. Yang ada adalah anak yang ”dipaksa” menjadi bodoh.

Posting Komentar


Jika Anda merasa postingan blog ini bermanfaat, Anda bisa berlangganan melalui email untuk mendapatkan update terbaru.